Pakaian Ketika Berihram

Wahai Rasulullah, bagaimanakah pakaian yang seharusnya dikenakan oleh orang yang sedang berihram (haji atau umrah) ?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tidak boleh mengenakan kemeja, sorban, celana panjang kopiah dan sepatu, kecuali bagi yang tidak mendapatkan sandal, maka dia boleh mengenakan sepatu. Hendaknya dia potong sepatunya tersebut hingga di bawah kedua mata kakinya. Hendaknya dia tidak memakai pakaian yang diberi za’faran dan wars dari daun tumbuhan. Hendaknya wanita yang sedang berihram tidak mengenakan cadar dan sarung tangan.” (HR. Bukhari no. 1838).

 

Jangan Lupa Bayar Zakat Fitrah

Hikmah-hikmah Zakat Fitrah .

Di antara hadits yang menyebutkan tentang hikmah disyari’atkannya zakat fitrah adalah hadits berikut. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud, no. 1609; Ibnu Majah, no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Di antara hikmah disyari’atkannya zakat fitrah adalah:

1- Untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kata-kata kotor serta menutupi cacat  (kekurangan) saat puasa. Jadilah kebaikan di hari raya menjadi sempurna.

2- Untuk memberi makan kepada orang miskin dan mencukupi mereka sehingga tidak perlu meminta-minta di hari raya, sekaligus membahagiakan mereka di hari raya. Jadilah hari raya itu menjadi hari kebahagiaan.

3- Bentuk saling berbuat memberi kebaikan antara orang kaya dan orang miskin di hari raya.

4- Mendapat pahala karena telah menunaikan zakat pada yang berhak menerima di waktu yang telah ditentukan.

5- Zakat fitrah adalah zakat untuk badan yang Allah tetapkan setiap tahunnya di hari raya Idul Fithri.

6- Zakat fitrah sebagai bentuk syukur setelah puasa sempurna dilaksanakan. (Lihat Az-Zakat fi Al-Islam, hlm. 322-324)

Imam Masjid Al Haram

Imam – imam Tarawih dan Tahajjud Masjid Al Haram

1. Syaikh sudais Prof. Dr. Abdurrahman as-Sudais

beliau lahir pada tanggal 10 Februari 1960 di al-bukairiyah, salah satu kota yang ada di provinsi al-qasim,berada disebelah timur laut dari provinsi makkah.
pada saat usia berumur 22 tahun, beliau pertama kali diangkat menjadi imam sekaligus khatib di Masjidil Haram pada 22 sya’ban tahun 1404 Hijriah. Pada 15 Ramadhan 1404 Hijriah,merupakan kesempatan pertama beliau untuk menyampaikan khutbah di Masjidil Haram.

2. Su’ud Al-Shuraim Su’ud bin Ibrahim bin Muhammad Al-Syuraim

Beliau dilahirkan di kota Riyadh pada tahun 1386 H.
Beliau adalah mantan Hakim Pengadilan Tinggi Makkah dan Dekan Fakultas Kehakiman Universitas Umm Al-Qura Ia menjadi hakim di Pengadilan Tinggi Syari’ah sejak tahun 1413 Hijriah dan mengajar di Masjidil Haram sejak tahun 1414 Hijriah. Ia meraih gelar doktor (Ph.D) dan merupakan seorang profesor bidang Syariah dan studi Islam di Universitas Umm Al-Qura di Makkah, dan baru-baru ini ditunjuk sebagai Dekan dan “Profesor Spesialis Fiqih” di Universitas tersebut.

3. Abdullah Awad Al Juhani Abdullah Awad Al Juhani

Beliau lahir di kota Madinah pada hari Selasa, 11 Muharram 1396/ 13 Januari 1976.   Dan telah ditunjuk untuk menjadi imam pada bulan Ramadhan, yaitu pada tahun 1426-1427ه‍ hingga sekarang. Beliau telah menikah dan memiliki 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan.
Beliau telah menghafal Al-Quran sebelum usia baligh dengan rahmat Allah dan pengarahan orangtuanya. Dan pada saat itu Beliau belajar di masjid Al-Isyraaf di Harah Gharbiyyah, Madinah.

4. Maher Al-Muaiqly Syeikh Maher Al Muaiqly

Beliau adalah imam masjidil haram yang lahir pada tanggal 7 januari 1969. Beliau ditetapkan sebagai imam di masjidil haram pada bulan juli 2007. Syeikh Maher Al Muaiqly yang memiliki suara yang begitu merdu, Suara merdu Imam Besar Syeikh Maheer Al Muaiqly di Masjidil Haram, membuat orang-orang rindu dengan Ka`bah dimana seluruh umat muslim ingin mendatanginya dengan pergi haji dan umroh.

5. Syaikh bandar baleela Syaikh Bandar Baleela

Nama aslinya beliau adalah Syaikh DR. Bandar bin abdul aziz baleela.
Lahir di Makkah pada tahun 1395 Hijriah, Beliau bertugas sebagai imam dan khatib pada Masjid Amira Nouf di distrik Aziziyah, Makkah, lalu berpindah ke Masjid Bin Baaz. Pada 12/9/1434 Hijriyah, akhirnya pada tanggal 4/12/1434 Hijriyah beliau diangkat menjadi imam tetap di Masjidil Haram. Tugas pertama beliau sebagai Imam di Masjidil Haram ditunaikan pada tanggal 5/12/1434 Hijriyah untuk memimpin shalat maghrib.

6. Syaikh Yasser al-Dosari (Doussary)

Nama lengkapnya beliau adalah Yassir bin Rasyid bin Husain al-Udani al-Dosary. Beliau adalah imam dan khatib di Masjid Dakhil, Riyadh. Selain itu beliau juga merupakan Sekjen (Sekretaris Jendral) Prince Sultan University untuk pengajaran al-Qur’an kepada Angkatan Bersenjata Arab Saudi.
Salah satu prestasi dari beliau adalah kemampuannya menghafal al-Qur’an secara sempurna yang diperoleh pada usia relatif muda, yakni usia 15 tahun.
Selain menjadi imam dan khatib di Masjid Dakhil, Riyadh, beliau juga sering diundang untuk menjadi imam shalat di berbagai tempat lainnya di berbagai negara. Beberapa tempat yang pernah beliau singgahi antara lain: Uni Emirat Arab, Mesir, Bahrain, Switzerland, dan Republik Ceko (Czech)

Mengendalikan Marah

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.

“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi

orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah”


Larangan Rasullullah tentang Minum Berdiri

Larangan Makan Minum Sambil Berdiri Dalam Islam dan Fakta Ilmiah Kesehatan

Islam sangat mengatur aspek kehidupan manusia, termasuk adab makan dan minum. Terkadang makan dan minum sambil berdiri menjadi kebiasaan, padahal itu tidak baik bagi kesehatan dan dilarang dalam Islam. Undangan pesta atau hajatan sering kali dilakukan tanpa tersedia tempat duduk.

Para ulama menegaskan bahwa minum sambil duduk lebih utama dari pada minum sambil berdiri. Ini berdasarkan hadits Nabi Saw,Janganlah di antara kalian minum sambil berdiri, bila terjadi maka muntahkanlah airnya.” (HR. Muslim).

Dari Anas radhiyallahu anhu dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,  Sesungguhnya Nabi Muhammad Saw melarang seseorang untuk minum berdiri.” Qatadah (seorang tabi’in) berkata, “Kami bertanya kepada Anas, ‘Bagaimana dengan makan sambil berdiri?’ Anas menjawab, ‘Yang demikian itu lebih jelek dan lebih buruk.’” (HR. Muslim).

Dari Abu Sa’id al-Khudriy, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang minum sambil berdiri. (HR. Muslim no. 2025, dll)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Janganlah kalian minum sambil berdiri. Barang siapa lupa sehingga minum sambil berdiri, maka hendaklah ia berusaha untuk memuntahkannya.” (HR. Ahmad no 8135)